Kamis, 14 April 2011

NILAI - NILAI KEBUDAYAAN DALAM TEKNOLOGI INFORMASI

nilai - nilai budaya yang terdapat dalam teknologi informasi adalah :
1.Nilai Kesenian.
2.Nilai Budaya BaratBarat lebih menekankan dunia objektif dibandingkan perasaan sehingga hasil pola pemikirannya membuahkan sains dan teknologi. Nilai budaya Barat lebih ditekankan pada akan pikiran.

3.Nilai Murni
Nilai murni merupakan nilai yang baik yang dapat membina keharmonisan, kekuatan dan pembangunan individu serta masyarakat. Nilai ini perlu dikembangkan guna membendung berbagai gejolak dan krisis yang dihadapi masyarakat. Nilai ini mencakup kejujuran, kesetiaan, keadilan dan sebagainya. Dalam dunia teknologi informasi yang bebas nilai, dimana Internet dijadikan sebagai senjata utama, maka dipastikan bahwa mereka yang terlibat di dalamnya sentiasa terkait dengan nilai ini. Sebagai contoh; seorang pengguna Internet wajar tahu sebatas mana hak penggunaannya. Pembuat halaman web mesti sadar apakah informasi yang disebarkan itu akan menambah nilai kepada masyarakat atau sebaliknya. Pengamalan terhadap nilai murni ini, akan membimbing manusia dalam memanfaatkan teknologi informasi secara tepat guna.

4.Nilai Moral
Nilai moral merupakan nilai asas dan fundamental dalam pembinaan individu dan masyarakat. Mempertahankan kebaikan dan menolak segala bentuk keburukan serta tindakan yang memperjuangkan kebenaran perlu ditingkatkan dalam kehidupan masyarakat dewasa ini. Semua manusia Indonesia hendaknya menyadari, bahwa moral individu yang baik merupakan modal awal bagi berkembangnya potensi setiap individu menuju manusia Indonesia yang baik dan cerdas.

5.Nilai Etika
Masyarakat yang beretika ialah masyarakat yang mempertahankan tanggungjawab moral dan social, membentuk individu sebagai anggota masya¬rakat yang komit terhadap peraturan dan perundang-undangan yang berlaku. Islam sebagai contoh telah menyediakan asas etika dan akhlak yang luhur untuk diamalkan oleh umatnya, termasuk dalam penggunaan teknologi informasi. Prinsip “benar” memiliki peranan penting dalam kehidupan manusia. Masalah kerakusan pornografi, akan dapat diatasi jika kita sadar dan memastikan bahwa tindakannya itu berdasar pada asas kebenaran.

Amanah sebagai standard umum perbuatan manusia akan melahirkan generasi yang “success” dalam setiap sendi kehidupan. Penyebar informasi yang amanah dan memiliki kecerdasan rohani yang tinggi, akan sentiasa memastikan bahwa informasi yang disebar adalah benar dan dapat dipertanggungjawabkan di kemudian hari. Sifat bijaksana juga perlu dimiliki oleh setiap insan, karena akan mendorong manusia untuk senantiasa berhati-hati dalam menyebarkan sesuatu melalui media berbasis teknologi informasi. Jika sifat ini tertanam dalam jiwa setiap individu, maka standard etika yang cemerlang akan berhasil diimplementasikan dalam kehidupan masyarakat dunia.

6.Nilai Budaya
Nilai budaya adalah nilai-nilai yang mencirikan kehidupan suatu bangsa. Budaya masyarakat Indonesia terkenal dengan identitas tersendiri yang dipengaruhi oleh adat ketimuran, kepercayaan, tradisi, bahasa, dan lain-lain. Penggunaan dan pemanfaatan teknologi informasi seperti internet harus diterima dengan hati terbuka, tetapi harus di pandu dengan etika dan akhlak mulia agar membudaya di kalangan masyarakat Indonesia. Memanfaatkan internet untuk mencari informasi adalah satu kebutuhan, dan informasi yang diakses hanyalah informasi yang memiliki kontribusi bagi pengembangan potensi diri guna mencapai “kebahagiaan dunia dan akherat” sebagai tujuan hidup manusia.

TREND BARU, KEKERASAN DALAM BERPACARAN ( kekerasan dalam berpacaran )

Selain kasus kekerasan dalam rumah tangga (KDRT), muncul trend baru yakni kekerasan dalam pacaran (KDP). Korbannya kebanyakan perempuan di usia 15-20 tahun.

Jumlah tertinggi adalah perempuan yang mengalami kekerasan dalam bentuk penganiayaan oleh pacarnya sendiri. Ada pula yang diperkosa pacarnya sendiri, baik sampai hamil maupun tidak sampai hamil. Bentuk KDP lainnya adalah penelantaran setelah dihamili.

Hal itu terungkap dalam data Pusat Perlindungan Perempuan dan Anak (P3A) Sidoarjo yang dirilis Sabtu (10/4).

”Di P3A ini juga ada shelter untuk menampung perempuan korban kekerasan, yang membutuhkan pendampingan hukum. Nah, sekarang ada satu perempuan penghuni shelter. Dia masih SMA. Korban perkosaan oleh pacarnya dan teman pacarnya,” terang Nurvy.

Sedangkan data perempuan di Sidoarjo yang menjadi korban kekerasan dalam tiga bulan terakhir mencapai 40 kasus. Terbanyak adalah kasus KDRT (Kekerasan dalam Rumah Tangga).

Nurvy merinci Januari terdapat lima kasus. Kemudian pada Februari melonjak jadi 16 kasus. Lalu Maret menurun sedikit hanya 12 kasus. Antara 1-9 April terdata tujuh kasus. ”Terbanyak dari kasus itu adalah kekerasan suami terhadap istri,” katanya.

Nurvy mengungkapkan dari data Januari sebanyak tiga kasus adalah KDRT. Kemudian pada Februari ada sembilan kasus KDRT. Lantas Maret terjadi 7 kasus KDRT, dan tanggal 1-9 April terdata 6 kasus KDRT.

”Rata-rata motifnya berlatar belakang ekonomi. Perempuan yang jadi korban KDRT, sebagian besar cuma berpendidikan sampai SMA. Ada juga satu di antaranya yang ditelantarkan setelah dinikahi secara siri,” beber Nurvy.

Di bagian lain, Nurvy mengatakan bahwa pihaknya belum bisa mengatakan, apakah kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di tahun ini cenderung meningkat atau tidak, jika dibandingkan dengan tahun lalu.

Yang jelas, P3A mencatat bahwa pada tahun 2008 terjadi 123 kasus. Kemudian pada tahun 2009 tercatat 124 kasus. “Kalau dilihat jumlah kasus dalam dua tahun itu, memang ada kecenderungan meningkat. Biarpun tipis. Tapi tahun ini kan baru berjalan sampai bulan keempat. Belum bisa ditarik garis trend-nya,” terang dia.

Secara terpisah, Suagustono, Wakil Ketua P3A Sidoarjo mengatakan bahwa angka-angka yang muncul ke permukaan itu sebenarnya hanya merupakan fenomena gunung es. Jadi ada kemungkinan besar bahwa kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan yang tidak terdata atau tidak dilaporkan, jumlahnya jauh lebih besar lagi.

Sebagai contoh kasus adalah Alviani, istri reporter RCTI, Bambang Pramono yang tewas dalam peristiwa pembunuhan di Perumahan Pesona Permata Gading II, 6 Desember 2009 lalu. Semasa hidup, dia kerap mengalami KDRT yang dilakukan suaminya, tapi tidak pernah melapor seara resmi ke polisi maupun ke P3A. Pernah sekali melapor ke Polsek Sidoarjo, tapi akhirnya dicabut sendiri.

“Kalau dalam catatan kamui ada kecenderungan meningkat, bisa jadi itu ada peningkatan kesadaran dari perempuan, untuk melaporkan kekerasan yang dia alami. Atau, bisa jadi itu karena pengaruh situasi ekonomi global yang memang makin menghimpit ini,” tuturnya.

Untuk meminimalisir kasus-kasus kekerasan terhadap perempuan itu, lanjut Agus, P3A giat berkoordinasi dengan lembaga-lembaga Pemerintah, ormas, dan tokoh masyarakat untuk menyosialisasikan gerakan anti kekerasan terhadap perempuan.

Sementara itu, As'alut Thoyibah, aktivis Muslimat NU (Nahdlatul Ulama) dan Perempuan PKB Sidoarjo yang juga menjadi relawan di P3A Sidoarjo mengungkapkan bahwa budaya patriaki yang kental di kalangan masyarakat Sidoarjo, masih kerap memandang sebelah mata perempuan. Terutama di bidang politik.

“Yang saya tahu, masyarakat Sidoarjo ini kan sebagian besar adalah kalangan nahdliyin. Nah, dari (sikap) NU-nya sendiri itu masih merasa berat untuk merestui perempuan jadi pemimpin atau kepala daerah,” ujarnya.